ANALISIS mempunyai zat adiktif bagi pemakainya. Di

ANALISIS FATWA MUI
TENTANG ROKOK

Oleh :

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Fahrul Rozi Ishak

A.     
PENDAHULUAN

Rokok adalah salah
satu zat yang membahayakan bagi kesehatan seseorang, akan tetapi dikalangan
masyarakat khususnya kaum remaja mereka menganggap rokok sebagai kebutuhan
pokok. Generasi-generasi muda anak bangsa sudah tercemar oleh rokok yang sangat
banyak dampak negative yang sangat membahayakan bagi kesehatan. Rokok juga
mempunyai zat adiktif bagi pemakainya.

Di Indonesia rokok mendapat kecaman keras dari lembaga Fatwa
Nasional (MUI) kajian mengenai roko disinggung oleh ketua MUI.  Kajian komprehensif itu, kata Ma’ruf,
termasuk telaah ahli fikih, pendapat ulama, para imam besar, serta telaah fatwa
yang terkait. Karena terjadi perbedaan pendapat, maka penetapan fatwa dilakukan
berdasar titik temu. “Ada dua pendapat, tidak terselesaikan. Yang satu
mengatakan haram, satu mengatakan makruh,” kata Ma’ruf. Akhirnya, MUI
mengeluarkan fatwa haram untuk rokok. Pengumuman fatwa itu disampaikan beserta
sejumlah pertimbangan dan pendapat yang berbeda itu. “Akhirnya penetapan
fatwa disampaikan apa adanya perbedaan pendapat disertai penjelasan
masing-masing,” kata Ma’ruf.1 Dari
latar belakang diatas penulis mencoba membatasi masalah dengan pertanyaan
bagaimana istinbath ahkam mengenai ke haraman rokok dan bagaimana kontroversi pengharaman rokok.

B.     
PEMBAHASAN

Dalam makalah
Nurrun Jamaludin menyebutkan Dalam memutuskan suatu fatwa MUI terlebih dahulu
menimbang masalah yang dipertanyakan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah
dengan melihat kondisi yang ada pada masyarakat (relevansi hukum), begitu juga
dengan fatwa tentang hukum merokok, maka MUI terlebih dahulu menimbang adanya
manfaat dan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh rokok. Masyarakat mengakui bahwa
industri rokok telah memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang cukup besar,
industri rokok juga telah memberikan pendapatan yang cukup besar bagi Negara.
Bahkan, tembakau sebagai bahan baku rokok telah menjadi tumpuan ekonomi bagi
sebagian petani. namun disisi yang lain merokok dapat membahayakan kesehatan
(dlarar) serta potensi terjadinya pemborosan dan merupakan tindakan tabdzir.
Secara ekonomi, penangulangan bahaya merokok juga cukup besar.2

Mengenai hukum
merokok, Majelis Ulama Indonesia memutuskan fatwanya dalam Keputusan Ijtima’
Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III tahun 2009  tentang hukum merokok
dijelaskan bahwa: Peserta Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III sepakat
bahwa merokok hukumnya haram jika dilakukan: di tempat umum, oleh anak-anak dan
oleh wanita hamil.3

Sebelum
memutuskan fatwa mengenai hukum merokok ini, MUI terlebih dahulu memperhatikan
makalah “hukum merokok dalam kajian fiqh” yang dipresentasikan oleh Dr. K.H.
Ahmad Munif Suratmaputra, MA. Dan makalah yang berjudul “Bahaya Rokok Bagi
Kesehatan Tinjauan Dari Perspektif Islam” yang di tulis oleh Drs. K.H.
Abdussomad Buchori. Dalam makalah K.H Ahmad Munif tersebut dijelaskan bahwa
hukum merokok diperselisihkan oleh para fuqaha yaitu: Pertama, pendapat yang
mengharamkanya. Kedua, pendapat yang memakrukannya. Ketiga, pendapat yang
membolehkanya. Keempat, sikap yang tidak mengambil pendapat apapun. Kelima,
pendapat yang menyatakan bahwa rokok itu bisa terkena  hukum yang lima
(haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah) sesuai situasi dan kondisi.4
Sedangkan dalam makalah K.H. Abdussomad Buchori dijelaskan bahaya rokok dalam
tinjauan hukum Islam serta pandangan ulama’ tentang rokok.5

Adapun dasar
istinbath yang digunakan MUI dalam penerapan hukum rokok adalah:

1.     
Ayat-ayat al-Quran sebagai berikut

…..???? ?? ??????? ? ??????? ?? ?????????? ??? ??????? ????? ????? ????? ??……..

2.      Hadis Nabi SAW

?????? ???????

3.      Kaidah
fiqhiyyah

????? ??? ?

????? ???? ?? ???? ????? ??? ??

4.     
Perlindungan dari Komnas
Perlindungan Anak, GAPPRI, Komnas Pengendalian Tembakau, Departemen Kesehatan
terkait masalah rokok.

5.      Hasil rapat
koordinasi MUI tentang masalah merokok yang diselengarakan pada 10 September
2008 di Jakarta, yang menyepakati bahwa merokok disamping menimbulkan madharat
juga ada manfaatnya.6

Jadi
menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan dalam syariat baik
bahayanya terhadap badan, akal ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula bahwa
mrokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.7

Dapat kita
pahami juga dari pemaparan di atas bahwa MUI mempunya tujuan merealisasikan
kemaslahatan. Sejalan dengan hal itu apabila ada berkumpul antara maslahat dan
mafsadah, maka yang harus dipilih adalah yang maslahatnya lebih banyak (lebih
kuat), dan apabila sama banyaknya atau sama kuatnya maka menolak mafsadah lebih
utama dari pada menarik maslahat, hal ini sesuai dengan kaidah:

??? ??????? ??? ? ??? ??? ????? ??

“Menolak mafsadah didahulukan
dari pada meraih kemaslahatan”

Juga didalam kaidah lain;

????? ???????

Maksud kata ????? ??????? adalah
seseorang tidak boleh menyengsarakan dirinya sendiri dan juga tidak boleh
menyengsarakan orang lain. Jika seseorang tidak membinasakan dirinya sendiri
dan orang lain, maka secara otomatis kemaslahatan itu akan terwujud dan
terjaga.8

Oleh karena
itu, Jika hukum merokok dilihat dari segi manfaat dan madaratnya, maka dalam
menentukan status hukumnya sangat sulit karena manfaat dan madarat yang
ditimbulakan dari aktifitas merokok tersebut akan
berbeda-beda antara perokok yang satu dengan perokok yang lain, sehingga status
hukumnya pun 
tergantung pada kondisi seorang perokok itu sendiri.

Izuddin bin
Abd al-salam didalam kitabnya Qawaid al-ahkam fi mushalih al-anam mengatakan
bahwa seluruh syariat itu adalah maslahat, baik dengan cara menolak mafsadat
atau dengan meraih maslahat. Kerja manusia itu ada yang membawa kepada
maslahat, ada pula yang menyebabkan mafsadat. Baik maslahat atau mafsadat, ada
yang untuk kepentingan duniawiyah da nada yang untuk kepentingan ukhrawiyyah,
da nada juga yang untuk kepentingan duniawiyah sekaligus ukhrawiyyah. Seluruh
yang maslahat diperintahkan oleh syariah dan seluruh yang mafsadat dilarang
oleh syariah. Setiap kemaslahatan memiliki tingkat-tingkat tertentu tentang
kebaikan dan manfaat serta pahalanya, dan setiap kemafsadatan juga memiliki
tingkat-tingkatannya dalam keburukan dan kemudaratannya. Kemaslahatan dilihat
dari sisi syariah bias dibagi tiga, ada yang wajib melaksanakannya, ada yang
sunnah melaksankannya, dan ada pula yang mubah melaksanakannya. Demikian pula
kemafsadatan, ada yang haram melaksanakan da nada yang makruh melaksanakannya.9

Menurut Imam
Khomeini, bagi orang yang belum pernah merokok, merokok itu haram. Tetapi bagi
orang yang sudah merokok, merokok itu makruh. Artinya kalau yang sudah merokok,
merokok itu lebih baik ditinggalkan. Tetapi bagi yang belum sama sekali
merokok, jangan sekali-kali menyentuh rokok.10

     Oleh karena
itu hukum merokok menjadi 3, yaitu :

1.      Haram

Ulama yang mengharamkan rokok
dengan merujuk dalam al-quran suat al-baqarah ayat 195 yang artinya :

“Dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan” karena merokok dapat merusak
kesehatan dalam tubuh dan juga dapat menimbulkan beberapa penyakit. Seperti
kanker, serangan jantung, paru-paru merusak janin dll.

2.      Makruh

Karena ada yang beralasan
bahwa ketika tidak merokok bisa mengeluarkan bau yang tak sedap, dan ketika
tidak merokok terjadi ketergantungan sehingga tidak bisa focus dan khusyu’
ketika melakukan sesuatu. Oleh karena rokok dihukumi makruh. Namun apabila
dapat menyebabkan timbul penyakit makan haram hukumnya.  

3.      Mubah

Karena ada dalil yang menyatakan bahwa hukum asal
sesuatu adalah boleh kecuali terdapat dalil yang melarangnya. Namun apabila
rokok tersebut bisa merusak terhadap kesehatan tubuh, maka hukumnnya haram
untuk dikonsumsi.

 

 

C.     
KESIMPULAN

 

Majelis Ulama
Indonesia memutuskan fatwanya dalam Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa
se-Indonesia III tahun 2009  tentang hukum merokok dijelaskan bahwa:
Peserta Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III sepakat bahwa merokok
hukumnya haram jika dilakukan: di tempat umum, oleh anak-anak dan oleh wanita
hamil. Metode istibath ahkam MUI berlandasan Al-Quran dan Al-Hadits serta tidak
lupa memperhatikan prinsip-prinsip Islam. Kotroversi pengahraman rokok menimbulkan bahwa roko bisa menjadi haram, mubah dan makruh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        Daftar Pustaka

 

A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih kaidah-kaidah hukum islam dalam
menyelesaikan masalah-masalah yang praktis, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP,
2016),

Jalaluddin Rahmat, Menjawab
Soal-soal Islam kontemporer, (Bandung : MIZAN, 1999),

Syeikh Abdul Aziz, Fatwa-Fatwa
terkini, (Jakarta: Darul Hak, 2010).

 

Djazuli, Kaidah-Kaidah Fiqh (kaidah-kaidah hukum islam dalam
menyelesaikan masalah-masalah  yang
praktis)., cet ke-1 (Jakarta, kencana, 2006),

 

Wahbah Az-Zuhailiy, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Cet. III, Jilid 6, hal. 166-167)

 

Yusuf al-Qardawi, Membumikan
Syari’at Islam, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997), terj. Muhammad Zaki,
Yasir Tajid, 

 

Dr. K.H. Ahmad Munif Suratmaputra, MA, ” Hukum
Merokok Dalam Kajian Fiqh,” makalah disampaikan 
pada Sidang Ijtima Ulama’ se-Indonesia III, Sumatra Barat, 23-26 Januari
2009,

 

Drs. K.H. Abdussomad Buchori, “Bahaya Rokok
Bagi Kesehatan Tinjauan Dari Perspektif Islam” makalah disampaikan  pada
Sidang Ijtima Ulama’ se-Indonesia III, Sumatra Barat, 23-26 Januari 2009, hlm.

 

Makalah
Nurun jamaludin Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta pada Jurusan Hukum Islam Konsentrasi Hukum Keluarga. Lihat
juga Keputusan Ijtima’ Ulama komisi Fatwa se-Indonesia, (Jakarta: Majelis Ulama
Indonesia, 2009).

 

http://www.apakabardunia.com/2015/11/rokok-budaya-warisan-penjajah-yang-ikut.html

 

http://nasional.kompas.com/read/2017/01/17/14153171/ketum.mui.ungkap.sulitnya.keluarkan.fatwa.haram.untuk.rokok

 

http://www.ngaji.web.id/2015/09/hukum-merokok-bisa-makruh-haram-dan.html#ixzz51yDJCmBZ

 

 

1http://nasional.kompas.com/read/2017/01/17/14153171/ketum.mui.ungkap.sulitnya.keluarkan.fatwa.haram.untuk.rokok

2 Makalah Nurun
jamaludin Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta pada Jurusan Hukum Islam Konsentrasi Hukum Keluarga. Lihat
juga Keputusan Ijtima’ Ulama komisi Fatwa se-Indonesia, (Jakarta: Majelis Ulama
Indonesia, 2009). Hlm. 56.

3 Ibid, hlm,
57.

4 Dr. K.H. Ahmad
Munif Suratmaputra, MA, ” Hukum Merokok Dalam Kajian Fiqh,” makalah
disampaikan  pada Sidang Ijtima Ulama’
se-Indonesia III, Sumatra Barat, 23-26 Januari 2009, hlm.195-199.

5 Drs. K.H.
Abdussomad Buchori, “Bahaya Rokok Bagi Kesehatan Tinjauan Dari Perspektif
Islam” makalah disampaikan  pada Sidang Ijtima Ulama’ se-Indonesia III,
Sumatra Barat, 23-26 Januari 2009, hlm. 205-209.

6 Keputusan
Ijtima’ Ulama…..hlm. 58-60.

7 Syeikh Abdul
Aziz, Fatwa-Fatwa
terkini, (Jakarta: Darul Hak, 2010).hlm 23

8 Yusuf
al-Qardawi, Membumikan Syari’at Islam,
(Surabaya: Dunia Ilmu, 1997), terj. Muhammad Zaki, Yasir Tajid,  hlm. 65

9 A.
Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih kaidah-kaidah
hukum islam dalam menyelesaikan masalah-masalah yang praktis, (Jakarta:
PRENADAMEDIA GROUP, 2016), hlm. 27-28

10 Jalaluddin
Rahmat, Menjawab Soal-soal Islam
kontemporer, (Bandung : MIZAN, 1999), hlm. 163