Bercerita Bercerita bukan hanya sekedar mengungkapkan pikiran

Bercerita merupakan salah satu aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh manusia. Bercerita dapat dilakukan dengan diri sendiri ataupun dengan orang lain. Melalui bercerita seseorang dapat menyampaikan suatu gagasan pikiran kepada orang lain. Bercerita bukan hanya sekedar mengungkapkan pikiran saja melainkan juga sebagai salah satu bentuk komunikasi, baik itu antara teman, orangtua dengan anaknya, guru dengan siswa disekolah, atasan dengan bawahan, dan sebagainya. Bercerita menjadi bagian yang sangat penting dalam salah satu komponen kurikulum sekolah. Setiap kegiatan belajar mengajar berlangsung maka akan terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru, komunikasi yang terjalin tidak lain adalah dengan bercerita. Kemampuan bercerita menjadi salah satu komponen dasar dalam kurikulum sekolah. Dalam pembelajaran siswa diharuskan memiliki kemampuan seperti membaca, berbicara, menulis, dan mendengarkan. Salah satu cara dalam mendukung kemampuan siswa adalah dengan melalui bercerita (Storytelling). Meskipun, tidak semua mata pelajaran dapat dipahami dengan bercerita. Bercerita tetaplah menjadi hal yang penting bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar disekolah. Pengaplikasian bercerita seringkali dapat ditemui dalam mata pelajaran yang berhubungan dengan bahasa, seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Namun, tidak semua sekolah menerapkan bercerita sebagai salah satu kurikulum sekolah. ini disebabkan tidak semua sekolah memiliki kurikulum yang sama antara sekolah yang satu dengan lainnya. Berdasarkan uraian tersebut penyusun akan membahas mengenai bagaimana implementasi bercerita (Storytelling) dalam kurikulum sekolah. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang telah disebutkan, rumusan masalah yakni sebagai berikut:Bagaimana bercerita dapat diterapkan dalam kurikulum sekolah?Mengapa bercerita dapat membuat kemampuan siswa bertambah?Apa saja kendala penerapan (Storytelling) dalam kurikulum sekolah? TujuanAdapun tujuan dalam penyusunan makalah ini antara lain:Untuk mengetahui penerapan bercerita (Storytelling) dalam kurikulum sekolah.Untuk mengetahui perkembangan kemampuan siswa dengan bercerita (Storytelling).Untuk mengidentifikasi kendala yang terjadi dalam penerapan bercerita sebagai kurikulum sekolah.PEMBAHASANPengertian StorytellingStorytelling (bercerita,cerita) merupakan tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya), karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka; ;lakon yang diwujudkan atau diperuntukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dan sebagainya; omong kosong; dongengan.Storytelling was modelled each session by the facilitator. After each new story told, participants were asked to nominate and demonstrate parts of the story they liked most and explain why. They discovered what makes a story work (gestures, intonation, facial expressions, eye contact). Many games were played for enhancing imagination, verbal fluency and expressiveness, both verbal and nonverbal. Bercerita adalah model setiap sesi oleh fasilitator. Setelah setiap cerita baru diceritakan, para peserta diminta mencalonkan dan menunjukkan bagian dari cerita yang paling mereka sukai dan jelaskan mengapa. Mereka menemukan apa yang membuat sebuah cerita kerja (gerak tubuh, intonasi, ekspresi wajah, kontak mata). Banyak permainan dimainkan untuk meningkatkan imajinasi, kefasihan verbal dan ekspresif, baik verbal maupun nonverbal.Storytelling adalah seni menceritakan sebuah cerita lebih dari sekedar membacakan cerita. Storytelling atau bercerita adalah bentuk asli dari pengajaran dan memiliki potensi untuk membina kecerdasan emosional dan membantu anak memperoleh wawasan tentang perilaku manusia. Storytelling dapat meningkatkan motivasi siswa dan mengurangi kebosanan dalam pembelajaran bahasa.Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bercerita (Storytelling) merupakan pengalaman menyampaikan suatu hal menggunakan gerak tubuh baik itu verbal dan non verbal untuk meningkatkan kecerdasan emosional, imajinasi, ekspresi diri, wawasan, dan mengurangi kebosananStorytelling sangatlah berguna dan bermanfaat dalam pembelajaran, dengan bercerita dapat membantu guru untuk mengemukakan gagasan pikiran dari suatu mata pelajaran dan membantu siswa dalam mengasah kemampuan yang dimiliki seperti memperlaus daya kesadaran siswa, imajinasi siswa, dan membantu siswa berpikir dari suatu cerita yang didengarkan atau disampaikan.  Jenis StorytellingBerdasarkan isi cerita dan fokus masalah pembahasan, terdapat dua jenis Storytelling, yakni:Storytelling PendidikanMerupakan dongeng yang bersifat mendidik. Diciptakan dengan suatu misi pendidikan bagi dunia anak-anak, dan terdapat pesan moral yang terkandung didalamnya.FableMeruapkan dongeng mengenai kehidupan dunia binatang yang digambarkan dapat berbicara selayanya manusia. Biasanya cerita ini membahas mengenai perbuatan dan perilaku manusia.Manfaat StorytellingSejatinya Storytelling memiliki banyak sekali manfaat, baik dari segi emosional, kecerdasan, dan lainnya. Manfaat dari kegiatan Storytelling antara lain ialah:Mengembangkan imjinasi, fantasi, empati, dan berbagai jenis perasaan lainnyaMenumbuhkan minat baca dan rasa ingin tahu Membangun kedekatan dan keharmonisanMedia pembelajaranAdapun manfaat bagi anak dengan bercerita antara lain:Mengembangkan daya pikir dan imajinasi anakMengembangkan kemampuan berbicara anakMengembangkan daya sosialisasi pada analSarana komunikasi anak dengan orangtuanya, temannya, ataupun temannyaMedia terapi anak-anak yang bermasalahMengembangkan spiritualitas anakMenumbuhkan motivasi dan semangat hidupMenanamkan nilai-nilai moral dan budi pekertiMembangun kontak batin antara pendidik dengan siswaMembangun dan membentuk karakter pada anakMengembangkan nilai-nilai aspek pengetahuan, perasaan, sosial, dan penghayatanPengertian Kurikulum sekolah Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum terdiri atas tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan, dan silabus.Dimensi KurikulumAdapun dimensi yang melingkupi kurikulum sekolah yakni sebagai berikut:Kurikulum sebagai ide, gagasan pikiran yang bersifat konseptualKurikulum sebagai rencana dokumen pembelajaranKurikulum sebagai proses yang sudah terlaksana di lapanganKurikulum sebagai hasil yang telah dicapai oleh siswaKewenangan Pengembangan KurikulumSuatu kurikulum tidaklah akan terciptan dan berkembang tanpa adanya pihak-pihak yang membantu dalam pelakasanaan kurikulum. Dibutuhkan kebijakan dan seperangkat peraturan yang tertulis dan sah serta diakui dimata hukum dalam menciptakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan para siswa. Pihak ang bertanggung jawab dalam kewenangan pengembangan kurikulum diantaranya:Pemerinah Pusat Berkewenangan menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang didasarkan dan dikembangkan dari Standar Kompetensi Lulusan.Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota)Berkewenangan menyusun kurikulum muatan lokal.Sekolah dan Komite SekolahBerkewenangan menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan, muatan lokal, dan silabusnya.Mengembangkan Kurikulum Sekolah dengan Menerapkan StorytellingAzas dan LandasanDalam mengembangkan kurikulum dibutuhkan suatu azas yang menjadi landasan dari kurikulum tersebut. Landasan yang menjadi dasar kurikulum haruslah terkait dengan falsafah kehidpan yang dianut suatu negara atau agama atau dimana masyarakat itu berada. Falsafah disini mengkaji mengenai persoalan manusia seperti hakekat benar-salah (logika-ilmu), hakekat baik-buruk (etika;nilai-nilai), dan hakekat indah-buruk (astetika;seni).Kurikulum juga haruslah berkaitan dengan pembentukan manusia agar dapat merubah perilaku manusia ke arah yang lebih baik dan positif dimana pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku manusia menjadi sangat penting untuk dijadikan suatu dasar dalam perencanaan ataupun dalam pelaksanaan pendidikan.Konsep model KurikulumKonsep kurikulum yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan yakni sebagai berikut:Kurikulum Subjek Akademis, pengembangan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.Kurikulum Humanistik, pengembangan kepribadian, sikap, emosi/penasaran.Kurikulum Rekonstruksi Sosial, pengembangan kemampuan memecahkan masalah dalam masyarakat.Kurikulum Teknologis, pengembangan perilaku atau kompetensi dalam berbagai tahapan dan bidang kehidupan.Komponen KurikulumKomponen kurikulum terbagi menjadi:Tujuan pendidikanStruktur dan muatan kurikulumMata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, penjurusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.Kalender pendidikanSilabus Storytelling sebagai Sarana BelajarMengajar melalui Storytelling sudah sejak lama dilakukan oleh para pendidik baik itu disekolah atau dirumah. Namun sayangnya di zaman yang semakin canggih ini Storytelling semakin terkikis dan tergantikan dengan adanya gadget. Secara umum banyak faktor yang mempengaruhi dalam keberhasilan pembelajaran siswa, diantaranya seperti faktor waktu, tempat, jenis cerita, pendidik, tugas, lingkungan, latar belakang siswa dan orangtua, tujuan pembelajaran, dan lainnya. Bercerita bukan hanya kegiatan yang melibatkan pendengaran dan penglihatan, kontak mata antara orang yang bercerita dan yang mendengarkan menjadi terbentuknya komunikasi.Berdasarkan kurikulum sekolah dengan bercerita siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan bercerita dalam kurikulum sekolah:Membantu pembentukan pribadi dan moral anakCerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral pada anak, dengan bercerita anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada tatanan masyarakat.Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasiCerita dapat digunakan sebagai salah satu media dalam menyalurkan imajinasi dan fantasi anak. Pada saat anak menyimak cerita, imajinasi mulai terangsang. Imajinasi yang terbangun saat menyimak cerita akan memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah secara kreatif.Menimbulkan kemampuan verbal anakCerita dapat memacu kecerdasan linguistik pada anak. Cerita tidak hanya mendorong anak untuk senang dalam menyimak cerita namun juga senang untuk bercerita dan berbicara, anak akan mulai belajar bagaimana berdialog dan bernarasi.Merangsang minat menulis anakAnak yang terbiasa dan dibiasakan mendengarkan cerita dan bercerita akan mudah untuk memahami dan memiliki kemampuan untuk menulis cerita sendiri.Menumbuhkan minat baca anakKegiatan mendengarkan cerita dan bercerita dengan menggunakan buku atau media lainnya akan menumbuhkan minat anak untuk membaca dikarenakan rasa ingin tahu yang ingin terjawab.Membuka wawasan pengetahuan anakMelalui cerita anak akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan terbukanya wawasan dari berbagai sudut pandang yang berbeda.Kendala Dalam StorytellingBercerita (Storytelling) bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan disekolah. Setiap tahunnya sekolah selalu memperbaharui kurikulum yang berlaku dan dapat diterapkan disekolah. Kurikulum sekolah sudah seharusnya menyesuaikan dengan perkembangan anak dan perkembangan dunia dimana saat ini kita berpijak. Seiring berjalannya waktu perbedaan akan ditemui, tuntutan informasi dan teknologi yang semakin dibutuhkan dalam berbagai jenis dan model terbaru menjadikan kebutuhan pembelajaran anak semakin dirasa kurang cukup dan harus selalu bertambah variasinya agar dapat sesuai dengan keinginan perkembangan dunia dan memenuhi harapan para orangtua. Namun, tidak jarang akan ditemui berbagai ancaman dan kendala dalam menerapkan berbagai penerapan untuk mendukung kurikulum sekolah. berbagai keterbatasan dan kendala yang dapat ditemui dalam menerapkan Storytelling sebagai kurikulum sekolah antara lain:Bahan Bacaan yang tidak memadaiDalam bercerita seringkali dibutuhkan sarana atau wadah bercerita seperti buku. Namun buku-buku cerita saat ini tidak mudah ditemui, dan lagi harganya yang kurang terjangkau menjadikan hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup membeli buku bacaan. Kurangnya perpustakaan sekolah yang jarang diperhatikan serta taman bacaan untuk masyarakat yang tidak berkembang menjadi semakin sulit saja bagi anak untuk mendapatkan buku cerita.Kompetensi bercerita yang tidak mumpuniBercerita bukan hanya mengenai bagaimana seseorang berbicara menyampaikan gagasan atau informasi yang dimiliki namun ada teknik dan strategi tertentu yang wajib dikuasai agar bercerita menjadikan anak semakin berkembang pengetahuannya dan memotivasi kecerdasan anak. Kompetensi tersebut tidak semua dimiliki dan diketahui oleh para pendidik. Dibutuhkan pelatihan lebih lanjut agar terjalin kerjasama yang baik dan hasil pembelajaran agar mencapai standar kurikulum.Lingkungan yang tidak mendukungLetak geografis yang berbeda-beda juga menjadi kendala dalam penerapan bercerita. terkadang akses jalan menuju sekolah sulit untuk ditempuh, sehingga anak tidak memperoleh pendidikan dengan baik dan sesuai. Pengaruh keadaan lingkungan orang-orang disekitar anak serta pergaulan yang kurang mendidik dan terkesan bebas seringkali menjadi penghambat anak dalam memperoleh pendidikan yang lebih baikKomunikasi satu arahSeringkali guru hanya menerangkan saja dan tidak melibatkan secara aktif kepada siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Itulah yang disebut dengan komunikasi satu arah. Apabila komunikasi yang terjalin menjadi dua arah, maka hasil yang diperoleh dalam mengambangkan kemampuan anak melalui cerita akan berbeda dengan yang hanya komunikasi satu arah.Penafsiran anak yang berbeda-bedaSetiap anak dikaruniai dengan kecerdasan dan kapasitas otak yang berbeda. Daya tangkap dalam memperoleh dan mencerna informasi yang didapat tidak semua sama dan sesuai dengan harapan kita. Terkadang salah penafsiran pun terjadi dalam menyimak cerita, ini merupakan hal yang wajar karena anak masih dalam masa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masih banyak hal-hal yang ingin diketahui olehnya.Keterbatasan akses informasiAkses informasi sekarang ini sudah semakin banyak banyak bentuk, cara, dan variasinya. Anak-anak yang tinggal diperkotaan biasanya dapat memperoleh akses informasi dan pendidikan dengan mudah. Namun, bagi anak-anak yang tinggal jauh dari perkotaan akses informasi masih dirasa sulit dijangkau dan tidak semua dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini terkadang menimbulkan ketimpangan sosial yang sangat berbeda.Emosional anak yang sering berubah-ubahMasa anak-anak merupakan masa yang masih dalam tahap perkembangan. Anak cenderung akan meniru segala sesuatu yang terjadi disekitarnya tanpa membedakan mana yang baik dan buruk. Emosi yang belum stabil juga menyebabkan anak terkadang memiliki dunia sendiri dan kemauan sendiri. Perubahan suasana hati yang tak tentu cukup banyak mempengaruhi keadaan psikis anak dalam memperoleh pembelajaran disekolah.Cerita yang kurang menarikTema dan topik bercerita seringkali tidak sesuai dengan kondisi anak. Pembawaan cerita yang kurang menarik juga sedikit banyak menjadi kendala dalam bercerita. dibutuhkan variasi yang kreatif agar cerita menjadi lebih menarik perhatian anak.Standar Kurikulum yang tidak sejalanStandar kurikulum dalam suatu negara sejatinya sudah memiliki kesamaan dalam persepsi dan aturan yang berlaku. Namun, di Indonesia kurikulum sekolah memiliki berbagai versi dikarenakan perubahan kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah yang sering berganti. Kendala seperti ini menimbulkan ketimpangan dan kerancuan dalam menentukan pembelajaran yang baik dan sesuai bagi anak. Ada pula beberapa sekolah yang menerapkan kurikulum sekolah yang berbeda dengan yang diberlakukan oleh pemerintah pusat dan mengambil kurikulum dari negara lain. Perbedaan seperti ini dan kurikulum yang tak sama serta sejalan dapat mempengaruhi kondisi anak yang kadang masih labil dan belum stabil. Tuntutan demi tuntutan pembelajaran kadang menjadi tak menentu yang sesekali menekan kondisi anak dan dapat menyebabkan anak menjadi stress.