Indonesia banyak terjadi di beberapa daerah di

Indonesia
adalah salah satu negara multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat
dari kondisi sosiokultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks,
beragam, dan luas. Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok etnis,
budaya, agama, dan lain-lain yang masingmasing plural (jamak) dan sekaligus
juga heterogen “aneka ragam” (Kusumohamidjojo, 2000:45).  Sebagai negara yang plural dan heterogen,
Indonesia memiliki potensi kekayaan multi etnis, multi kultur, dan multi agama
yang kesemuanya merupakan potensi untuk membangun negara multikultur yang besar
“multikultural nationstate”.

Pluralitas
dan heterogenitas yang tercermin pada masyarakat Indonesia diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa
yang kita kenal dengan semboyan “Bhinneka
Tunggal Ika”, yang  mengandung makna
meskipun Indonesia beraneka ragam (beragam), tetapi terintegrasi dalam
kesatuan. Hal ini merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi bangsa Indonesia
yang bersatu dalam suatu kekuatan dan kerukunan beragama, berbangsa dan
bernegara yang harus dimaknai secara sadar. Will Kymlica (2002:289) menyebutkan
bahwa “suatu masyarakat yang dilandasi keragaman yang sangat luas sulit untuk
bersatu kecuali apabila anggota masyarakat itu menghargai keragaman itu
sendiri, dan ingin hidup di sebuah negeri dengan beragam bentuk keanggotaan
budaya dan politik”.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Keberagaman
yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang di sisi lain
sangat rawan dan memicu konflik serta perpecahan. Konflik bernuansa SARA
akhir-khir ini banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kebanyakan kasus
yang terjadi dipicu oleh tindakan seorang atau kelompok tertentu yang intoleran
kemudian membawa kasus tersebut dalam kelompoknya yang lebih luas dengan
mengatasnamakan latar belakang, ras, agama, dan antargolongan. Wingarta
(2012:28) memaparkan bahwa munculnya konflik yang diwarnai SARA sebagaimana
terjadi di Ambon, Poso, Sampit dan beberapa daerah lain  merupakan cerminan dari lapuknya pemaknaan
dari Sasanti Bhinneka Tunggal Ika. Hal
ini menggambarkan bahwa pada dasarnya, tidak mudah mempersatukan suatu
keragaman tanpa didukung oleh kesadaran masyarakat untuk menghargai keberagaman
tersebut.

Sikap
menghargai keberagaman berarti memiliki kemampuan untuk hidup dan membiarkan orang lain hidup dengan
hidupnya, yaitu kemampuan untuk memberikan sikap objektif dan adil pada
pendapat, perilaku, ras, dan agama yang berbeda. Bukan hanya sekedar tidak
memperdulikan perbedaan, tetapi lebih mengarahkan manusia untuk menunjukkan
rasa hormat terhadap perbedaaan tiap-tiap manusia. Banyaknya konflik yang
terjadi sebagai akibat dari keberagaman yang terjadi di Indonesia menunjukkan
akan pentingnya setiap individu untuk memiliki sikap kesadaran dalam menghargai
keberagaman. Sikap menghargai keberagaman bukan serta merta tumbuh
dalam diri manusia, melainkan harus ditanamkan serta dipupuk melalui proses
pembelajaran sejak dini. Terdapat beberapa pihak yang berperan dalam
pembentukan sikap dalam diri manusia, diantaranya yaitu keluarga sebagai
komunitas pertama yang berperan dalam pembentukan hal-hal dasar dalam diri
manusia. Selain keluarga, lingkungan lain yang berperan dalam pembentukan baik
sikap maupun kemampuan kognitif dalam diri manusia adalah melalui pendidikan di
sekolah.

Pendidikan
bukan sekedar usaha pencapaian pengatahuan yang dapat mengembangkan potensi
yang dimiliki oleh manusia. Namun juga berkewajiban untuk menuntun manusia
kepada usatu pembeharuann pikiran dan perubahan pandangan hidup yang total
dalam hubungannya dengan isu-isu realitas dan kebenaran. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UUSPN) tentang 
Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 3 menyatakan bahwa “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan
bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.

Salah
satu mata pelajaran yang membentuk kemampuan kognitif sekaligus watak/ sifat
manusia adalah melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan salah satu program
pendidikan yang bertujuan untuk membentuk sikap manusia, yang salah satunya
yaitu sikap menghargai keberagaman. Hal tersebut ditujukkan melalui salah satu
kompetensi dasar siswa kelas VII semester 2 KD 2.4 “Menghargai  keberagaman suku, agama, ras dan
antargolongan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika”, sebagai implementasi dari
penguasaan kognitif siswa terhadap KD 3.4 yaitu “Mengidentifikasi keberagaman
suku, agama, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika”.

Berdasarkan
uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian kuantitatif
dengan judul “Hubungan Kemampuan Siswa dalam Mengidentifikasi Keberagaman,
Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bhinneka Tunggal Ika dengan Sikap
Menghargai Keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (Studi Siswa Kelas
VII SMP Negeri 4 Surakarta Tahun Ajaran 2017/2018).