Mobil mobil robot ini banyak sekali memiliki

 

Mobil
tak berawak merupakan mobil yang tidak memiliki pengemudi. Mobil ini mampu
merasakan lingkungannya dan menavigasi tanpa input manusia. Mobil ini
menggunakan berbagai tekink untuk mendeteksi sekelilingnya,
seperti radar, sinar laser, GPS, dan penglihatan computer (Manik Sukoco, 2017).
Di Indonesia, mobil tak berawak belum banyak digunakan oleh masyarakat. Meskupun
demikian, tidak asing lagi di telinga publik sehingga tak heran antusiasme
masyarakat begitu luar biasa dalam menyambut mobil robot tersebut. Dilengkapi
dengan teknologi yang canggih sehingga dapat parkir sendiri, hal ini sangat
menggiurkan bagi kebanyakan orang kantoran yang sangat sibuk dengan bisnisnya.
Jika dilihat dari segi masyarakat luas, mobil robot ini banyak sekali memiliki
keuntungan dan sangat membantu ketika kelelahan.

 Namun demikian ada juga sisi negative dari
mobil robot ini yaitu adanya gangguan system secara tiba-tiba yang tentunya
merugikan dan dampaknya dirasakan oleh banyak pihak. Maka untuk mengetahui pertanggungjawabang
dari pihak mobil tak berawak jika ada gangguan system pada saat beroperasi. Apa
yang harus dilakukan oleh perusahan mobil tak berawak jika terjadi kerusakan
ataupun alat dari mobil ini tidak terkontrol secara tiba-tiba ketika sedang
beroperasi? Bagaimana dengan nasib para penumpang ataupun nasib orang di
jalanan/kendaraan lain di depan, belakang, dan di samping mobil robot pada saat
itu?

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Mobil
tak berawak, dari namanya saja sudah menyita banyak perhatian publik dengan
inovasi baru yang dimilikinya. Menggiurkan? Tentu saja, apalagi bagi masyarakat
yang sangat baik dalam kehidupan ekonominya. Dengan dibekali teknologi yang tinggi,
“sejumlah 58% responden menyatakan keinginannya untuk menaiki mobil ini, namun
hanya 35% yang akan membiarkan anak-anak mereka naik mobil tak berawak
sendirian. Penerimaan tertinggi terdapat di pasar negara berkembang, seperti
China, India, dan Uni Emirat Arab” (sukoco, 2017). Namun kita juga harus
memperhatikan moral dan etika mobil tak berawak ini karena bagaimanapun juga
kemampuan dan naluri  manusia tidak bisa
disamakan dengan teknologi hasil karya manusia sendiri.

Seperti yang dikatakan dalam penelitian moral machine bahwa jika situasi di
jalan tiba-tiba rem mobil tidak berfungsi dengan baik dan didepannya ada
pejalan kaki/kendaraan lainnya yang sedang melaju dan juga pada sisi lain
terdapat penghalang jalan. Apa yang harus dilakukan? Apakah menabrak pejalan
kaki di depan demi menyelamatkan penumpang? Atau harus belok, dimana
membahayakan penumpang yang bisa berujung pada kematian? Ketika dihadapi dengan
situasi seperti ini, siapa yang mau disalahkan? Tidak ada pengemudi disini.
Tentu sebagai pihak korban merasa dirugikan. Apakah perusahan mobil robot ini
sudah menyiapkan seperti asuransi jiwa atau alternative lain dalam menyikapi
hal seperti ini? Atau mereka mempunyai aturan tersendiri bahwa kecelakaan di
jalan bukan tanggungjawab mereka? Dan sekalipun mobil tersebut dimiliki oleh
orang awam, apakah ia bersedia menanggung semua resiko yang terjadi? Sebagai
manusia tentunya setiap orang tidak ingin dirugikan oleh pihak manapun termasuk
diri sendiri. Mobil yang dikendarai oleh orang pun kerap terjadi kecelakaan di
jalan, manun hal ini terjadi karena kecerobohan sang pengemudi. Hal ini dapat
diminimalisir dengan cara seperti orang yang sedang dalam keadaan tidak stabil
tidak di perkenankan untuk mengemudi.

Berdasarkan etis dan moral yang berlaku di
masyarakat maka mobil tanpa awak ini banyak menuai pro dan kontra dalam
masyarakat sehingga perlu pertimbangan lebih lanjut mengenai aspek-aspek pada
system kerja mobil robot ini ketika sedang beroperasi. Hal ini perlu dilakukan
demu kenyamanan penumpang dan juga pengguna jalan raya yang lainnya.